Dua hari lalu saya bertemu dengan seorang sahabat. Seorang pegiat kemanusiaan yang memiliki jiwa sosial tinggi. Lima tahun terakhir sahabat saya ini hidup di belantara Kalimantan, tepatnya di Berau untuk melakukan proyek kemanusiaan dan membangun komunitas yang ‘mungkin’ bagi kita tertinggal. Tahun ini baginya merupakan salah satu tahun terberat karena sejak April lalu, dukungan dari pihak swasta maupun pemerintah yang biasanya terjaga tiba-tiba harus distop. Hal yang buat dia harus habiskan tabungannya untuk bertahan hidup dan menjaga programnya terus berjalan.

Singkat cerita, tabungannya habis yang paksa dia untuk kembali ke kampung halaman. Dengan banyak asa yang tergerus nyata, dia cerita banyak hal. Salah satunya, sosial yang mengharap tidak seharusnya digantungkan harapan menghasilkan pundi uang. Iya, begitu menyebalkan ketika mendengar sosial yang dikaitkan dengan kepentingan suatu pihak untuk mengeksploitasi hal lain. Tapi sudahlah, bukan kapasitas saya untuk membahas hal tersebut.

Hari itu, ada satu hal yang begitu buat bekas dari pertemuan saya dengannya. Dia berkata,

“Cip, gue liat lu sekarang kok kaya ga ada pikiran sih? Betul-betul keliatan jadi manusia. Hidup hari ini mati sekali. Gimana caranya bisa begitu?”

Saya terdiam mendengarnya. Mencoba mencari ikhtisar hidup saya dalam beberapa detik sebelum menjawabnya.

Kita seringkali terlalu berlari mencari arti dan peng’aku’an terhadap diri. Terbungkus eksistensi dan aktualisasi, hingga lupa hakikat hidup itu sendiri. Saya kala ini sudah tidak begitu ambil pusing mengenai penilaian orang lain terhadap saya. Bahkan saya merasa bahwa media untuk bersosial sudah mulai bergeser manfaatnya dari untuk saling tahu, menjadi media yang begitu menunjukkan pencapaian masing-masing.

Tidak ada salahnya memang. Lagipula, itu hak masing-masing pribadi menggunakan alat sosial tersebut untuk apa. Jelas tidak semua media tersebut juga membawa ketidakbermanfaatan. Namun bagi saya di titik ini, saya jauh lebih berbahagia menghapus beberapa hal yang membuat ganjal hidup saya dan buat saya tidak menikmati hidup.

Toh, hidup di dunia ini adalah anugerah, dan akan ada batas waktu. Hidup hari ini, mati hanya sekali.

2 thoughts on “Menjadi Manusia

  1. Menurutku ini hikmah pandemi gak sih?? Sebelum pandemi rasanya riweh banget, pengen liburan tapi gak ada excuse untuk liburan.. misalnya memaksakan diri untuk liburan pun ada feel guilty, toh pada akhirnya akan kembali pada keriwehan itu. Adanya pandemi jadi ‘dipaksa’ untuk libur, banyak waktu untuk berpikir, gak pusing mikirin apa2, semuanya jg lagi pada borderline dalam hidup dan mati.. Klo urusan socmed, aku emg udah gak aktif dr kapan tau.. “liburan” ini sih yang lebih banyak ngasih manfaat, sekarang otakku enteng banget, jadi bisa lebih fokus.. aku lg nulis ttg ini sih, ntar ai link blog yu..

    Like

    1. Haha. Betul banget! Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Yang pasti dari pandemi ini juga kita jadi lebih banyak belajar untuk bersyukur dan terus bergerak apapun yang terjadi. Dipusingin terus juga akan makin riweuh, jadi yaudah jalanin terus sambil bersyukur dan berusaha! Ditunggu linknya dok!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s