Omzet yang turun mau tidak mau menyeret pikiran ini menjadi jenuh. Karenanya saya memutuskan untuk perbanyak tulisan. Ya selain karena keinginan berbagi lewat tulisan tidak pernah surut, saya yakin dengan #menulisbanyakberpikirbanyak. Mumpung lagi banyak waktu luang yang disebab COVID-19. Hehe.

Di tulisan sebelumnya, saya sedikit menyinggung omzet perusahaan yang berkurang. Omzet salah satu usaha saya merosot hingga 90%! Angka yang fantastis bagi saya. Saya belum pernah mengalami serupa selama ini. Bahkan biasanya saya diminta untuk memperbaiki kesehatan berbagai usaha.

Mengapa hal ini bisa terjadi di usaha saya? Karena mayoritas lini usaha saya berkaitan dengan food and supply. Saya memilih usaha ini karena makanan merupakan kebutuhan primer masyarakat di dunia. Seharusnya lini ini menjadi cabang usaha dengan risiko kemerosotan rendah. Saya selalu berkeyakinan bahwa selama orang masih butuh makan, maka lini usaha ini seharusnya tetap hidup. Ya, sandang, pangan, dan papan selalu menjadi kebutuhan paling utama bagi siapapun yang masih hidup.

Tetapi memang rencana tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Wabah virus corona membuat orang merasa khawatir untuk keluar dan memilih makan #dirumahaja. Secara otomatis, beberapa usaha termasuk rumah makan dan fish supplying mengalami penurunan omzet. Rumah makan yang biasanya cenderung ramai, saat ini sangat sepi. Termasuk permintaan take away. Tidak hanya saya, hampir semua rekanan pun mengalami hal yang serupa. Berbeda dengan permintaan ikan segar yang kami jual untuk memenuhi kebutuhan rumahan. Omzetnya naik karena para keluarga ingin memasak di rumah yang diyakini lebih bersih dan dapat mengurangi risiko penularan virus karena bepergian.

Menurunnya omzet adalah hal yang lumrah dalam bisnis apapun. Namun bila omzet turun bagai terjun bebas alias angka kemerosotan terjadi terlalu tinggi, usahawan perlu cepat-tanggap menghadapi kondisi ini. Kenapa? Karena yang menjadi pertaruhannya adalah perusahaan atau manusia yang bekerja di perusahaan tersebut. Perlu perhitungan matang, terutama para start-up yang mungkin modal atau capital-nya terbatas.

Bagi usaha-usaha yang baru berkembang seperti usaha yang sedang kami rintis, hal yang penting untuk dihitung adalah kebutuhan pengusaha dan kebutuhan perusahaan. Saya akan coba menjelaskan kedua hal ini sependek pengetahuan saya dari kacamata pengusaha dan perusahaan. Pengusaha adalah mereka (termasuk pimpinan) yang berkewajiban memastikan keberlanjutan usaha. Perusahaan mencakup segala yang dibutuhkan untuk melanjutkan usaha termasuk para pekerja di dalamnya.

Kebutuhan pengusaha dan perusahaan menjadi dua hal yang berkaitan. Pengusaha akan berperan dalam menentukan bagaimana roda perusahaan berputar sementara bisa mendapatkan keuntungan. bagi pimpinan kapitalis, pengembangan usaha dan keuntungan pribadi adalah hal yang utama. Sementara bagi para sosialis, kesejahteraan mereka yang berperan di perusahaan menjadi hal pokok dalam menentukan kebijakan perusahaan.

Bagi mereka yang mementingkan keuntungan perusahaan, hal yang paling mungkin dilakukan adalah mengurangi pengeluaran perusahaan yang dianggap tidak perlu. Antara lain jumlah pekerja yang berkaitan dengan gaji. Pada usaha-usaha konvensional, produksi yang besar biasanya membutuhkan SDM yang banyak. Sebaliknya, produksi sedikit berarti tidak memerlukan banyak SDM. Sehingga pemutusan hubungan kerja para karyawan menjadi alternatif paling masuk akal untuk ditempuh. Dengan logika produksi tetap berjalan sekalipun jumlah karyawan yang lebih sedikit. Dengan demikian, gaji yang menjadi beban perusahaan secara dramatis akan berkurang pula sehingga profit dapat dipertahankan.

Beda halnya dengan para sosialis yang seringkali mengenyampingkan kebutuhan pribadi demi kesejahteraan bersama. Mengurangi jumlah karyawan adalah hal yang berat untuk dilakukan. Sementara biaya operasional harus dikeluarkan, pemasukan harus dipertahankan, dan pengeluaran yang tidak perlu wajib dipangkas. Hal yang mungkin dilakukan adalah pengurangan insentif bagi para pekerja di perusahaan. Memang tidak semua pekerja mau dikurangi gajinya. Tapi alternatif ini dapat ditempuh demi mempertahankan ‘pemasukan’ pekerja. Sekalipun mungkin berkurang, tapi setidaknya para pekerja tetap memiliki pekerjaan dan pemasukan.

Ya, kondisi omzet yang turun merupakan suatu keadaan dilematis bagi para pengusaha. Saya meyakini mengurangi pekerja adalah hal yang dapat dihindari usahawan. Tapi bila memang hal tersebut harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan baik kebutuhan perusahaan maupun keluarga, ya berarti harus dilakukan.

Saya memprediksi akan banyak usaha yang tumbang pada kondisi kini. Terutama bagi mereka yang memiliki ‘hutang’. Sekalipun pemerintah sudah menangguhkan waktu hingga satu tahun bagi para kreditur, tapi hal tersebut tidak menyurutkan para pemberi hutang informal untuk menagih hutang. Sebut saja para lintah darat atau rentenir yang tidak peduli dengan anjuran pemerintah. Atau para pengusaha yang tempatnya masih menyewa dan lain sebagainya.

Yang dapat dilakukan selain mempertahankan usaha adalah mempersiapkan strategi apa yang bisa dilakukan kala wabah ini telah reda. Saya meyakini akan banyak perubahan dari gaya hidup, traumatis masyarakat, daya beli, dan lain sebagainya. Kondisi ini tentu menjadi pelajaran berharga bahwa sebesar apapun kita memiliki dunia, akan ada masanya ‘semudah itu dibolak-balikkan’.

Ini kondisi yang berat bagi kita bersama. Terutama para pekerja informal. Kita sama-sama menyadari bahwa perut harus tetap diisi sementara pikiran harus dijaga tetap waras. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa.

J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s