Saya menulis ini untuk menginisiasi gerakan #menulisbanyakberpikirbanyak sembari mengantisipasi pikiran negatif mengenai merebaknya virus novel corona di Indonesia akhir-akhir ini. Saya sadar, saya tidak sendiri menghadapi maraknya berita-berita yang beredar di masyarakat. Ya, berbagai macam berita, narasi yang kadang dilebih-lebihkan, pemberitaan mencekam, suasana yang kian hari kian sepi, dan pelbagai peristiwa yang buat ciut nyali.

Saya tidak sendiri

Saya mungkin termasuk satu diantara banyak orang yang ketakutan, saya mengakui itu. Kenapa saya takut? Saya adalah pengusaha yang waktunya banyak dihabiskan tidak jauh dari rumah, sekalipun saya keluar dari tempat biasa berkegiatan, itu bukan untuk waktu yang lama.

Begitu menghadapi kondisi yang kian hari kian sepi, sementara tanggung jawab saya pada perusahaan dan rumah tangga semakin hari semakin meningkat sempat buat saya down. Saya merasa bingung ketika omzet makin hari makin turun, mendekati angka 90% hari ini. Sementara ada perut yang harus diisi, ada mereka yang harus membayar uang kuliah, dan bukan hanya saya yang harus menghidupi keluarga.

Takut memang seringkali hanya ada di kepala. Tidak mudah untuk mengatasi ketakutan tersebut, terlebih bila kita tidak punya teman bercerita atau termasuk orang yang tidak mudah bercerita. Saya tidak takut untuk hidup susah, tapi saya merasa punya banyak tanggung jawab yang saya pikul saat ini. Tidak hanya mengenai usaha, tapi juga nasib dari mereka yang mempercayakan masa depannya pada segala keputusan saya.

Satu sisi, bila harus egois, saya tidak seberapa pusing karena masih punya sedikit tabungan untuk menghadapi kondisi kini. Saat ini, pundi-pundi hasil keringat yang kami kucurkan tidak akan banyak. Saya tidak tahu untuk jangka waktu berapa lama. Tapi berapapun yang dihasilkan beberapa waktu ini mungkin tidak akan berdampak banyak bagi kehidupan saya beberapa waktu ke depan. Sekalipun sulit, saya tetap mensyukuri kondisi saya saat ini. Memang tidak terlalu banyak, namun saya masih dapat berhitung budget bulanan kehidupan, mana yang harus ditekan dan dikurangi sementara kebutuhan primer terpenuhi. Itu yang saya alami. Tapi yang lain? Darimana penghasilan mereka bila bukan dari sini? Beban perusahaan yang tak bisa ditawar, sementara perut harus diisi. Apakah saya harus bertahan demi roda usaha, atau mengorbankan pekerja dengan tidak menggaji? Hal tersebut terus berputar di kepala saya selama beberapa minggu terakhir. Simalakama.

Saya sempat berdebat dengan beberapa kawan yang beri opini tanpa melihat banyak sisi. Ada yang menceritakan kebosanan mengenai kondisi mereka yang harus libur dan tak beraktivitas. Ada yang bingung tidak harus apa-apa sementara untuk makan bingung harus dimana. Saya sempat tersulut. Hehe. Iya, saya tersulut karena sekalipun ‘dia’ libur, ada yang menjamin bulan ini rekening mereka terisi, dompet mereka akan tetap bertambah. Namun pernahkan terpikir soal tempat makan yang harus tutup, karyawan yang dirumahkan tanpa penghasilan, simbah penjaja sayur keliling yang kehilangan pelanggan, serta tukang bangunan harian yang diistirahatkan dan tidak berpenghasilan?

Saya tidak punya hak menghakimi memang. Tapi privilege untuk tetap berpenghasilan sekalipun tidak bekerja adalah hal yang patut disyukuri. Sekalipun mungkin terasa terpenjara, sekalipun tidak bisa bersosial seperti biasanya. Setidaknya berilah kesempatan pikiran juga rasa kita untuk berempati pada para pekerja informal yang bila tak keluar maka tak makan, mereka yang harus menantang maut tiap harus mencari beberapa perak. Iya, semua sedang dalam kondisi sulit. Saya sadar tidak satupun orang yang menginginkan hal tersebut. Kita bersama berharap hal ini segera berakhir, tentu dengan disiplin diri dan tak lupa berusaha sembari berdoa.

Saya merasa harus bercerita, tapi tak ingin membebani siapapun. Bukan, itu bukan saya yang mengeluh tanpa solusi. Beberapa malam kualitas tidur saya saya sempat terganggu. Saya merasa terbebani. Hingga pada satu sisi resist dalam diri saya mengatakan, “Mau sampai kapan begini?

Hingga pada poin tersebut, saya menyadari bahwa menjaga waras adalah hal yang paling utama saat ini. Semua orang mengalami sulit, tapi pikiran yang bersih harus tetap dijaga demi kesehatan bersama. Saya bukanlah satu-satunya yang merasa susah, tapi bukan juga satu-satunya yang ingin menyerah. Semangat tidak boleh padam, pesimis adalah lawan kuat saat ini. Mental yang sehat sembari berpikir jernih adalah senjata utama kita menghadapi wabah COVID-19 ini bersama. Silakan merasa takut, tapi jangan terlalu lama.

Kenapa saya harus takut? Sementara saya tidak sendiri. Kenapa dahi harus berkerut? Sementara ada senyum dari si mungil yang selalu beri energi diri. Semoga tulisan ini bisa menjadi penyalur kecemasan, namun tidak berarti harus cemas tak berkesudahan. Solusi harus dicari, persiapan berlari harus dihitung kembali.

Salam dari kami, pejuang harian yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

Ps. Salam dari si kecil, Mbak Aisyah yang bernama lengkap Rr. Aisyah Aurumkenyo Damarjati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s