Kebanyakan mahasiswa yang menjalani karantina bahasa di Insan Kamadiya mengaku sering kesulitan bicara bahasa asing, mulai dari kosakata yang terbatas, gramatikal yang membingungkan, hingga ketidakpercayaan diri mereka untuk sebatas bicara. Bukan yang pertama saya ditanya mengenai tips apa yang bisa dilakukan untuk melancarkan bahasa asing.

Baik, baru saja saya berdiskusi dengan beberapa teman-teman disini mengenai evaluasi kami di sebuah workshop dimana saya menjadi pemateri. Saya suka mengajak beberapa orang untuk mengikuti saya ketika diminta mengisi acara agar selain menambah wawasan, di senggang kami selalu lakukan evaluasi yang membangun.

Salah satu yang saya cermati dari kondisi remaja sekarang adalah:

Mereka jarang bawa catatan

Ya, salah satu hobi saya adalah mencatat, entah mencatat yang penting atau tidak. Entah catatan yang rapi atau tidak. Entah catatannya akan tersimpan atau tidak. Tapi salah satu kebiasaan baik yang selalu saya minta mereka lakukan adalah mencatat, karena dengan mencatat otak akan dipaksa berpikir lalu membuat arsip baru. Ada istilah memori otot yang buat memori di otak lebih terasah.

Saya tidak akan banyak bicara mengenai memori otak atau otot di sini. Yang saya akan bahas adalah gaya mencatat anak muda kini.

Ketika saya tanya, “Tadi nyatet ngga’?

Mereka akan spontan jawab, “Catat pak.”

Saya selidik lebih jauh dengan pertanyaan, “Kalian catat dimana? Coba saya lihat.

Mereka (hampir) pasti menjawab, “Ada pak, di HP (ponsel).

Ya, anak masa kini lebih suka mencatat di ponsel mereka ketimbang di buku catatan. Alasannya? Ya lebih simple, tidak perlu bawa buku beserta alat tulis, tidak perlu repot coret atau hapus, tinggal ketik maka akan tersimpan di memori ponsel.

Baguskah?

Tetap bagus, tapi menurut saya, memori otot tidak akan terlatih lebih banyak karena kegiatannya hanya sebatas mengetik huruf. Memori otak juga tidak terlalu bekerja karena secara tidak sadar, otak akan ikut berpikir “Nanti juga akan tersimpan di memori hape.” hal ini secara tidak sadar mengurangi kinerja otak dan otot. Hal ini yang saya sampaikan kepada para mentee untuk selalu bawa catatan pribadi agar bisa mendorong memori otak dan otot bekerja. Mengurangi ketergantungan terhadap teknologi.

Well, some old ways still better tho.

Lalu hubungannya dengan bicara bahasa asing?

Saya sudah jelaskan mengenai memori otak dan otot. Ada baiknya bila memang merasa memiliki kekurangan pada kemampuan bicara, coba dimulai dengan menulis, selain menulis banyak membaca dan mencatat!

Tidak lepas dari sekedar menulis, tulisan yang dibuat harus dikoreksi kembali. Proses koreksi ini akan membantu otak yang belum terbiasa dengan bahasa baru lebih terlatih. Sebabnya struktur kalimat dan kosakata akan dapat bertambah.

Prosesnya adalah melihat, menulis, mengoreksi, lalu berlatih berbicara. Hal ini terlihat mudah secara teori, tapi pada proses aplikasi dibutuhkan kesungguhan dan latihan berulang. Beberapa kali di awal mungkin akan salah. Bila menemui hal ini, maka jangan menyerah, coba lagi! Salah lagi? coba lagi! Ketika otak sudah terbiasa, maka akan lebih mudah untuk berbicara secara fasih.

Satu hal yang harus diingat adalah, bahasa adalah mengenai kebiasaan. Semakin sering digunakan dan dilatih maka akan semakin terbiasa. Semakin terbiasa maka akan semakin percaya diri.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s