Kemarin saya bicara serius dengan beberapa teman disini. Bicara soal keberangkatan saya. Hehe.

Iya, beberapa hal yang harus saya persiapkan mengenai keberangkatan saya adalah mengenai mereka yang saya ‘tinggalkan’ di Indonesia. Mereka inilah yang seringkali lebih saya pilih sebagai alasan untuk tetap bertahan di Indonesia dahulu. Secara keinginan saya begitu inginnya melanjutkan studi, namun beberapa hati telah terlanjur ‘percayakan’ mimpinya pada saya.

Mau tidak mau hal ini buat saya harus memilih, akankah meninggalkan mereka untuk mengejar masa depan saya (bahkan mungkin ego), atau bertahan di Indonesia sembari membangun mereka juga bisnis (yang tentunya masa depan saya juga). Pilihan itu seringkali jatuh pada opsi kedua. Saya memilih untuk tetap di Indonesia dengan cara mendoktrin diri:

Toh setelah menyelesaikan studi, saya akan tetap kembali ke Indonesia. Buat apa saya pergi bila nanti kembali saya harus mulai dari nol lagi?

Pikiran itu sukses membuat saya bertahan. Terlebih lagi, saya sudah tidak lagi menjadi dosen, yang secara otomatis saya tidak punya homebase yang sekaligus menjadi tempat saya melanjutkan karir saya ketika pulang.

Terakhir kali saya berangkat untuk mengejar gelar Master of Science di Perancis, saya meninggalkan usaha yang saya bangun bersama beberapa kawan di Indonesia. Usaha tour and travel kala itu. Hasilnya? Ya berujung dengan mandegnya usaha karena ada perbedaan visi, saya ingin serius tapi tidak bisa apa-apa karena jarak yang memisahkan badan juga hati. Belum lagi perbedaan waktu yang membuat komunikasi kami kurang lancar.

Berangkat dari beberapa pemikiran itu, saya meyakini bahwa memang jalan saya adalah untuk membangun kerajaan saya bersama tim hebat saya. Saya yakin untuk merintis usaha lagi kali ini. Rintisan mulai berkembang dengan parameter bertambahnya pelanggan juga produksi yang terus meningkat seiring waktu. Pemasukan sudah semakin jelas dan bertambah digit. Pegawai mulai diberikan gaji jelas dan unit usahapun tidak hanya satu. Panggilan untuk mengisi acara kewirausahaan dan image pengusaha semakin lekat orang lihat.

Tapi..

Ternyata saya tidak bisa mengubur mimpi saya itu. Saya masih ingin berangkat lagi sekalipun saya bukan seorang pengajar (red: dosen), sekalipun bisnis yang saya bangun saat ini bisa saja goyah atau bahkan tidak bertahan selama kepergian saya mengejar degree.

Saya bingung. Apalagi saya baru saja menikah dan merupakan hal yang berat bagi saya dan istri untuk berpisah sementara waktu. Saya sempat merasa dillema karena saya ingin berangkat tapi di Indonesia banyak yang harus saya perjuangan. Untunglah istri mendukung saya untuk berangkat lagi sekalipun saya betul-betul harus pikirkan mengenai masa depan saya dan yang menjadi tanggung jawab saya.

Ya, banyak sekali kemungkinan negatif yang mungkin terjadi bila saya putuskan untuk berangkat lagi. Terutama mengenai rintisan perusahaan ini.

Prevensi untuk menghindari kemungkinan negatif itu adalah dengan cara membangun sistem, sistem yang jelas dalam bisnis, juga SDM yang kompeten juga bisa dipercaya, sehingga ketika saya tinggal beberapa tahunpun, bisnis yang sedang kami jalankan tetap bisa berjalan.

Kemarin, baru saja saya dan dua orang lainnya ngobrol ‘serius’ mengenai keberangkatan saya. Sekalipun merasa berat dan sulit percaya (karena rasa sayang ya, saya hanya tidak ingin tim menghadapi masalah tanpa saya), tapi mereka berhasil yakinkan saya untuk kejar mimpi. Usaha yang kami jalani saat ini sebisa mungkin akan tetap dijalankan dan berusaha mereka kembangkan.

Betapa bersyukurnya saya memiliki tim yang begitu loyal dan menyayangi saya. Semoga pilihan ini bukanlah pilihan yang membawa ketidakbermanfaatan. Saya telah melepas satu kesempatan untuk berangkat ke negeri eropa bulan depan, tapi mungkin bila memang ada kesempatan lain, saya akan segera ambil tanpa ragu.

Memang saat ini saya belum mendapat kejelasan akan berangkat kapan, tapi saya mungkin adalah orang yang paling bersemangat dalam mengejar mimpi. Bila sudah berusaha tapi ternyata berujung tidak bisa berangkat? Ya tidak apa-apa, toh sudah ikhtiar maksimal. Soal hasil, saya percaya Tuhan lebih tahu mana yang lebih baik untuk saya.

Ya, masalah akan selalu ada di segala pilihan hidup, terpenting adalah bagaimana kita menyikapi juga mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Salam hangat teriring doa dari saya yang kini telah yakin untuk mengejar mimpi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s