Budikdamber: Budidaya Ikan dalam Ember

Protein hewani merupakan komponen utama yang dibutuhkan dalam pertumbuhan manusia. Masyarakat pedesaan sementara ini relatif lebih mudah mendapatkan protein hewani yang murah dengan memelihara ikan di kolam, ayam di pekarangan, ataupun ternak besar seperti kambing dan sapi. Hal ini dimungkinkan karena masih tersedianya lahan yang cukup untuk melakukan kegiatan pertanian, peternakan, maupun pertanian di desa. Sayangnya, hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh masyarakat perkotaan.

Terbatasnya lahan menyebabkan masyarakat kota dipaksa untuk melakukan effort lebih dalam usaha memenuhi kebutuhan protein keluarga. Kebanyakan harus membeli sayuran dan daging di pasar. Sekalipun sayur dan daging tersedia di perkotaan, tidak ada yang dapat menjamin kesegaran dari bahan baku yang dibeli. Implikasi dari ketidaksegaran bahan baku yang tersedia di pasaran akan dapat menimbulkan masalah baru dari segi kesehatan manusia serta penyakit di daerah padat penduduk.

Issue dunia mengenai keterbatasan bahan pangan, ketersediaan air bersih, dan jumlah lahan akan menjadi masalah serius di masa yang akan datang. Masalah yang semakin terasa seiring dengan pesatnya pertumbuhan manusia adalah semakin terbatasnya lahan bebas di daerah perkotaan.

Beberapa masalah di atas mendorong kami untuk terus melakukan inovasi dalam proses pemenuhan gizi keluarga di lahan yang terbatas. Idenya adalah untuk memanfaatkan lahan sempit tersebut sebagai lahan budidaya perikanan dan pertanian yang ramah lingkungan. Budidaya ikan di lahan yang sempit diharapkan menjadi solusi dari permasalahan dunia yang sedang berlangsung saat ini.

Budikdamber dirancang untuk dapat fit di lahan yang super sempit karena menggunakan media ember 80 liter yang diisi dengan air 60 liter. Teknologi budidaya ini dapat diaplikasikan untuk memelihara ikan hingga ukuran konsumsi dan memiliki hasil samping berupa tanaman air seperti kangkung. Jadi tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, budikdamber juga dapat dijadikan media tumbuh bagi tumbuhan sebagai sumber protein nabati.

Teknologi sederhana ini diharapkan mampu dijadikan sarana pemenuhan kebutuhan gizi manusia di daerah perkotaan. Lebih jauh lagi, Budikdamber akan dikembangkan agar mampu menjadi solusi pemenuhan gizi di daerah bencana, sulit bahan pangan, pertambangan, bahkan kilang minyak offshore.

Haha, kok jadi keluar bahasa dosennya ya? Baru sadar. Tapi yasudah, waktu istirahatnya juga sudah habis, jadi dipost saja dulu. Nih bonus doodle art hasil salah satu mahasiswa yang juga tertarik mengenai budikdamber. Voilà!

IMG_1654
created by: Novitasari Purwanti, D3 Budidaya Perikanan Polinela
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s